Gajah dan Semut

“Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang nampak terlihat”
Memang mudah mencari kesalahan orang laen, dan begitu sulitnya menyadari kesalahan diri sendiri.
Fenomena tersebut sudah sering terlihat. Banyak orang-orang menghujat, mencaci, menghina, menyalahkan orang laen tanpa menyadari kesalahannya sendiri. Banyak orang merasa paling benar, paling ideal, paling sempurna, padahal belum tentu yang benar, ideal, dan sempurna menurutnya itu benar, ideal, sempurna dimata orang lain.
Sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna.
Semua mempunyai kesalahan masa lalu, masa sekarang, masa depan tanpa tersadari bahkan disadari. Perbaikan menata hati, menata diri mesti dilakukan. Introspeksi diri memang sulit tanpa bantuan orang lain, maka sewajarnya lah patut menerima pendapat orang lain dengan syarat lebih dari satu orang. Sesuai pepatah tersebut diatas “semut diseberang nampak terlihat”, maka pastilah orang lain bisa menilai letak kesalahan/ ketidakwajaran menurut pribadi orang tersebut terhadap pribadi sendiri.
Mencoba berusaha memperbaiki diri sendiri lebih membanggakan daripada terus mencari-cari kesalahan/aib orang lain.
Mengapa orang ‘alim’ lebih banyak diam (tidak membeberkan) saat mengetahui aib seseorang? Mereka (orang alim) lebih memilih mendo’akan dan mengarahkan orang tersebut kejalan yang semestinya dengan berpura-pura tidak mengetahui aib orang tersebut.
Etika mereka (orang alim) kah? tidak mempermalukan orang.
Atau karena mereka (orang alim) menyadari*sangat mendalam* hakikat tidak ada manusia yang sempurna?.
Hakikat manusia tiada yang sempurna, termasuk diriku pribadi.
Menata hati, menata diri
Memang susah untuk menata hati, menata diri… seperti pepatah “Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang nampak terlihat”. Begitu juga hal nya diriku, terkadang ku tidak menyadari kesalahanku karena merasa biasa, wajar, dan tidak salah. Tapi ku yakin pasti banyak hal yang harus ku perbaiki.
Mari instrospeksi diri masing-masing, menata hati, menata diri. Ciptakan suasana indahnya kedamaian, jangan saling caci dan jangan saling hujat.
Setelah menata hati, menata diri, baru lah mencoba mengarahkan orang lain untuk instrospeksi diri. *hihihi ku sendiri blom instrospeksi
*
Kebenaran memang harus ditegakkan, tapi semua dalam hidup punya etika.
Yang membingungkan, benarkah sudah standard etika yang ada?
Loch kok jadi merembet kemana-mana sieh… arahnya kemana nieh? *bingung* trus dimana gajah, dimana semut ya?? *
udah ah daripada tambah bingung, mending menganalisa diri sendiri…
kebanyakan kata-kata nanti malah tambah bingung… *garuk-garuk kepala* Yang ketularan bingung, maafin aye yeeee… maaf.. *bersimpuh kedua tangan*
5 Maret, 2009
Pertamaxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx…
ku maafakan…
gara-gara hera garuk2 kepala, “ketombe jatuh ga terasa”
ketauan niatnya berharap postingannya bisa terbit tiap hari sabtu
Yuk.. kita introspeksi diri..
Belajar bijak nih ceritanya. Ikut Aidi agh
Selalu dimaafkan….dan saling memaafkan….
Ampun Mbak wid
that’s good idea….
memang Wid .. yang namany gajah itu selalu gede, dan semut itu kecil ..
(aku koment apa ya barusan?)
SAYANG SEMUTNYA DI DAUN, TIDAK DI SEBERANG LAUTAN…HE..HE..
> dillah : pertamax nie yeee…
> udin : kok jd hera.. ehem ehemm…
> soul : astagfirullah, jgn berpraduga githu donk kk… ckckck….
> aidi : yuk..
> syafwan : do’akan yaa…
> ayah : maaf jg…
> said : awas lah said….
> rezaldo : thanks
> nia : hahaha…
> yulian : he eh lah skalinya…
makanya,
mulut cuma punya satu
sedang telinga dan mata sepasang,
supaya lebih banyak mendenagr dan melihat
dibanding berbicara
> warm : bener jg ya…
“Hakikat manusia tiada yang sempurna, termasuk diriku pribadi.”
aq setuju 5000%…….
> didoy : hehe…
bener juga yach, kita selalu menyalahkan orang laen sementara kita sendiri ga’ pernah koreksi diri sendiri… yach namanya juga manusia yang ga’ sempurna. semoga aja dengan postingan di atas bisa menjadikan orang yang baca berusaha untuk menjadi lebih baik. amien